FGD-2 Pra Muswil VII LDII DIY, Dorong Pendidikan Karakter Songsong Generasi Emas 2045

Sleman (14/8). Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) DIY kembali menggelar Focus Gorup Discussion (FGD) sebagai rangkaian pra Muswil VII. FGD-2 mengangkat tema “Penguatan Pendidikan Karakter untuk Menyongsong Generasi Emas 2045”. FGD-2 dalam masa PPKM level empat ini digelar secara daring melalui studio utama Aula DPD LDII Kabupaten Sleman, Sabtu (31/7/2021).

Narasumber yang dihadirkan antara lain Kepala Dikpora DIY Didik Wardaya, S.E., M.Pd., Ketua BPPD DIY Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara, Direktur Pascasarjana UST Prof. Dr. Ki Supriyoko M.Pd., dan Ketua DPP LDII Dr. Drs. Basseng, M.Ed. Sebanyak 300 peserta mengikuti FGD-2 yang terdiri dari unsur pimpinan dan pengurus DPD LDII Kabupaten/Kota se-DIY, pengelola sekolah, pondok pesantren, majelis taklim dan Sako Pramuka Sekawan Persada Nusantara. Termasuk Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY, Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) DIY, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DIY, Lembaga Pendidikan (LP) Maarif NU DIY, Pimpinan Madrasah Mu’allimin Mu’allimaat DIY, Pimpinan MA/MTs Ali Maksum DIY, dan Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka DIY.

Pada tahun 2045, Indonesia akan memperoleh bonus demografi sebesar 70% di mana penduduk Indonesia berada dalam usia produktif atau yang dikenal dengan generasi emas. “Dalam menyongsong banjirnya usia produktif tersebut, salah satu yang perlu dipersiapkan dengan baik adalah pendidikan karakter,” kata Ketua DPW LDII DIY Dr H Wahyudi MS.

Wahyudi menyebutkan, pendidikan karakter di LDII dalam rangka membentuk generasi profesional religius, sehingga tercapai tri sukses generasi penerus LDII yaitu alim faqih, berakhlakul karimah, dan mandiri. Sementara Didik Wardaya dalam materinya berjudul “Peta Jalan Menuju Generasi Emas Indonesia 2045″ mengatakan, pada 2045 terdapat momen 100 tahun kemerdekaan Indonesia. “Pada perayaan momen 100 tahun kemerdekaan tentunya ada titik-titik momen yang dapat kita isi di antaranya adalah bagaimana kita bisa mengisi ulang tahun kemerdekaan 45 tersebut dengan hal positif. Saat itu juga dimungkinkan terjadi bonus demografi, jumlah penduduk usia produktif lebih banyak,” urainya.

Menurutnya, Indonesia berpotensi menjadi negara kuat dan maju bila momen-momen tersebut dipersiapkan lebih awal. Akan tetapi jika tidak dipersiapkan dengan baik, bonus demografi tersebut akan menjadi beban suatu bangsa. ”Dari tantangan dan rintangan yang ada, pendidikan karakter sangat berperan penting untuk generasi saat ini,” tukasnya.

Selain profesional religius, GKR Bendara mengajak setiap keluarga menanamkan nilai-nilai luhur budaya jawa untuk membangun generasi muda yang berkarakter dan berbudaya. Berawal dari kewajiban orang tua pada 1000 hari pertama tumbuh kembang seorang anak. “Ini penting, seperti pemenuhan gizi saat hamil, setelah bayi lahir dimulai dari gizi ibu saat menyusui, kesehatan mental si ibu, imunisasi harus lengkap, dan stimulasi tumbuh kembang anak jangan sampai masuk kategori stunting. Gerakan 1000 hari pertama ini di Indonesia telah lama digerakkan sejak 4 tahun terakhir sebagai persiapan nanti di tahun 2045,” jelasnya.

Dalam mengasuh anak, GKR Bendara berharap tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Sejak dini anak diberikan pola asuh cara mengelola emosi dengan benar. “Seperti saat anak laki-laki tidak boleh menangis. Hal ini akan menjadikan seorang anak tidak bisa meluapkan emosinya. Akibatnya, ketika dewasa anak tersebut akan meluapkan emosinya ke jalur yang tidak benar,” ujarnya. Oleh karena itu, GKR Bendara berpesan, “Jangan men-gender-kan warna, mainan, hobi, ataupun jurusan akademik kepada anak, karena kalau orang tua mengkotak-kotakkan gender tersebut ke dalam suatu wadah, maka di tahun 2045 Indonesia tidak mendapatkan SDM yang mumpuni, yang bisa berkembang, beradaptasi dari semua lini dalam menghadapi tantangan di masa depan,” pesannya.

Sementara itu, Prof. Ki Supriyoko menjelaskan bagaimana sejarah Ki Hadjar Dewantara dalam membangun taman siswa. “Ki Hadjar Dewantara tidak hanya mengedepankan religius saja, tetapi nasionalismesme juga,” ungkapnya. Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan karakter harus ada di tiga sentral yaitu keluarga, sekolah atau perguruan, dan masyarakat. “Ketiga ranah tersebut harus bersatu,” tandas Prof. Ki Supriyoko.

Ketua DPP LDII Dr. Drs. Basseng, M.Ed. mengatakan, untuk mewujudkan generasi profesional religius, LDII telah melaunching platform pondokkarakter.com yang merupakan sumber belajar atau semacam perpustakaan digital berbasis teknologi informasi yang diperuntukkan bagi suatu pendidikan di lingkungan LDII. “Melalui pondokkarakter.com, stakeholder pendidikan bisa belajar bagaimana membentuk generasi muda profesional religius dari mulai kandungan sampai memasuki usia lansia,” katanya. Disebutkan Basseng, pendidikan karakter menjadi tugas utama baik di sekolah, masyarakat, dan keluarga. Kemajuan teknologi sangat berpengaruh sekali dalam upaya mengembangkan karakter. Serta melestarikan muatan lokal budaya baik di jawa maupun di daerah masing-masing. (Uyun Kusuma/FF Lines). 

Leave a Reply

Your email address will not be published.