LDII Pidie Aceh Gelar Sosialiasi Pencegahan Covid-19

Pidie (19/10). Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kabupaten Pidie, Aceh, menggelar pengajian umum yang berlangsung di aula gedung SMK 2, jalan Lingkar Keuniree, Desa Blang Asan, Kecamatan Sigli, Pidie, Minggu, (22/08).

Kegiatan ini dihadiri 150 peserta warga LDII, pria dan wanita baik yang berdomisili di daerah setempat maupun dari luar daerah. Rangkaian acara diawali pembacaan ayat suci Alquran oleh Ustadz Fakhruddin. Sedangkan tafsir Alhadist disampaikan oleh Ustadz Rismal. Kemudian dilanjutkan paparan materi tentang pencegahan Covid-19 oleh dr. Noura.

Ketua DPD LDII Kabupaten Pidie Yudi, mengatakan, kegiatan ini salah satu bentuk upaya meningkatkan keimanan dan ketakwaan terlebih di masa pandemi sekarang ini. “Supaya warga tertib dan lancar beribadah dan mengaji, selain imun yg meningkat, iman juga harus dikuatkan agar bisa sabar dalam menghadapi cobaan pandemi Covid-19,” katanya.

Yudi menyampaikan kegiatan pengajian ini digelar dengan menerapkan protokol kesehatan covid-19 secara ketat. “Mulai masuk gedung dicek suhu tubuh, disediakan tempat cuci tangan, memakai masker dan di dalam gedung tempat duduknya diatur untuk jaga jarak,” ujarnya.

Selain mengaji Alquran dan Alhadist, acara ini juga diisi dengan penyampaian sosialisasi pencegahan dan penanganan Covid-19. “Sebagai wujud dukungan kepada pemerintah dalam penanganan pandemi Covid-19, diharapkan warga LDII memiliki ilmu pengetahuan yang cukup tentang Covid-19,” tuturnya.

Sementara itu, dr. Noura dalam materi paparannya tentang pencegahan covid-19 menjelaskan, bahwa virus bukan benda mati, bukan makluk hidup, dan virus hanya bisa hidup menempel pada inangnya yakni sel manusia. “Walaupun dia bisa menginfeksi makhluk hidup, dia itu bukan makhluk hidup, tapi juga bukan benda mati, bukan makhluk ghaib juga seperti jin, dia itu seperti mikroba, makhluk yang bisa dilihat dengan alat, tidak bisa terlihat secara kasat mata, dia tidak berkembang biak, tidak beranak pinak, tapi dia memperbanyak diri, dia bereplikasi, mengkopi badannya sendiri, dari satu hingga jutaan, dan dia bisa bereplikasi kalau dia nempel ke inang badan kita,” jelasnya.

Kalau selembar kertas diletakan di atas meja, ya tetap aja satu lembar, sampai kapanpun tetap satu lembar, tapi kalau dimasukan ke mesin fotocopy, dia bisa jadi dua lembar, puluhan lembar, bahkan ribuan lembar, begitu juga dengan virus, anggaplah kertas ini sebagai virus, mesin fotocopy sebagai badan kita. 

dr. Noura menjelaskan mengenai transmisi atau penularan virus bisa terjadi melalui dua macam, “Melalui droplet, yaitu percikan dari air liur ataupun cairan-cairan, saat kita bersin, batuk, bernafas, atau kita terpapar, disitulah kita mengandung virus kemudian menularkan ke orang lain,” ujarnya.

Mode lain penyebaran virus lanjut dr. Noura lewat airborne, “Yaitu penyebaran melalui udara, contohnya seperti virus cacar, virus TBC, campak,” imbuhnya. Penyebaran virus itu bisa langsung (droplet) atau tidak langsung, karena virusnya nempel di benda seperti kursi, baju, digagang pintu, kemudian melalui airborne. 

Ia menerangkan upaya pencegahan untuk meminimalisir transmisi penularan virus, “Membatasi kapasitas orang dalam ruangan, sirkulasi udara harus bagus, dan tetap harus memakai masker yang sesuai dengan standar,” terangnya. Masker dipakai maksimal 4 sampai 6 jam saja, dan harus dibuang, diganti dengan yang baru dan bersih. 

Ia menjelaskan masalah isolasi mandiri, menurutnya, lama isolasi mandiri 2-14 hari bagi orang yang terpapar virus atau saat masa inkubasi dimana virus sudah menempel di tubuh manusia. “Saat virus menempel ke badan kita hingga menimbulkan gejala yaitu 2-14 hari, maka jika kita merasa kontak erat dengan pasien yang positif, kita harus isolasi mandiri 10-14 hari, artinya, jangan-jangan virus ini sudah ada di badan kita, kita akan menunggu virus ini akan bergejala atau tidak,” ungkapnya. 

Leave a Reply

Your email address will not be published.